Categories
Uncategorized

Perbedaan ISO 45001 dan OHSAS 18001

ISO 45001 adalah sebuah standar internasional baru untuk manajemen kesehatan dan keselamatan kerja (K3 / OH&S), yang akan segera menggantikan standar OHSAS 18001. Lalu apa perbedaan diantara keduanya? ISO 45001  adalah standar SMK3 yang dirancang oleh Komite proyek ISO dan dijadwalkan untuk dipublikasikan pada akhir tahun 2016 (diperkirakan bulan Oktober). Terdapat  sejumlah perbedaan antara ISO 45001  dan OHSAS 18001. Beberapa perbedaan utama antara keduanya adalah sebagai berikut:

Perbedaan pertama berkaitan dengan struktur. ISO 45001 didasarkan pada ISO Guide 83 (“Annex SL”) yang menetapkan struktur tingkat tinggi yang umum, teks dan istilah serta definisi umum  untuk sistem manajemen (misalnya ISO 9001 , ISO 14001, dll.). Struktur ini bertujuan untuk memfasilitasi proses implementasi dan integrasi beberapa sistem manajemen secara harmonis, terstruktur dan efisien.

Selain itu, dalam standar baru ada fokus yang kuat pada “konteks organisasi”. Pada ISO 45001, organisasi seharusnya tidak hanya mempertimbangkan apa isu K3 yang secara langsung berdampak pada mereka, akan tetapi juga melibatkan masyarakat lebih luas dan bagaimana kerja mereka bisa  juga berdampak pada komunitas di sekitarnya.

Beberapa organisasi yang menggunakan OHSAS 18001 mendelegasikan tanggung jawab kesehatan dan keselamatan kerja pada manajer K3, ketimbang mengintegrasikannya dalam sistem operasi organisasi. ISO 45001 menuntut penggabungan dari aspek kesehatan dan keselamatan kerja dalam keseluruhan sistem manajemen organisasi, dengan demikian mendorong top manajemen untuk memiliki peran kepemimpinan yang kuat terhadap sistem manajemen K3.

ISO 45001 berfokus pada mengidentifikasi dan mengendalikan risiko daripada bahaya, sebagaimana dipersyaratkan dalam OHSAS 18001. ISO 45001 mempersyaratkan organisasi untuk memperhitungkan bagaimana pemasok dan kontraktor mengelola resikonya. Dalam ISO 45001 beberapa konsep dasar yang berubah, seperti risiko, pekerja dan tempat kerja. Ada juga istilah definisi baru seperti: monitoring, pengukuran, efektivitas, kinerja dan proses K3.

Meskipun terdapat beberapa perubahan, tujuan keseluruhan ISO 45001 tetap sama seperti OHSAS 18001, yaitu untuk mengurangi risiko yang tidak dapat diterima dan memastikan keselamatan dan kesejahteraan semua orang yang terlibat dalam kegiatan organisasi.

Tahap Draft International Standard sudah selesai pada bulan Oktober lalu, sedangkan terkait tahap Final Draft International Standard dijadwalkan selesai pada Q1 2016 (Januari, Februari, Maret).

isoindonesiacenter.com

 

 

 

Categories
Uncategorized

BSN Dukung SDM Perikanan Terapkan ISO 9001:2015

Kantor Layanan Teknis (KLT) BSN Makassar bekerjasama dengan Balai Perikanan Budidaya Ikan Air Payau (BPBIAP) Takalar mengadakan pelatihan Bimbingan Teknis Penerapan SNI ISO 9001:2015. Pelatihan ini berlangsung selama dua hari, Senin-Selasa (18-19/12/2017), di Galesong, Kab. Takalar. Kegiatan ini merupakan salah satu program KLT BSN Makassar dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Standardisasi. Kegiatan ini diikuti oleh 20 orang peserta dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Passer, Kalimantan Timur; Dinas Perikanan Kab. Sorong, Papua Barat; Dinas Perikanan Kab. Gowa, Sulsel; Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Takalar, Sulsel, Dinas Perikanan Kab. Barru, Sulsel ; dan BPBIAP dengan instruktur Budi Triswanto dari Badan Standardisasi Nasional.

Teguh Budiono, dari KLT BSN Makassar, menyampaikan bahwa Bimtek ini merupakan kegiatan yang sudah diprogramkan oleh Tim KLT BSN Makassar sebelumnya namun baru dapat dilaksanakan sekarang. “Kegiatan ini sudah lama diprogramkan oleh BPBIAP dengan Tim sebelumnya, namun karena adanya pergantian personil baru terlaksana saat ini” ujar Teguh dalam acara pembukaan. Bimbingan teknis penerapan SNI ISO 9001:2015 merupakan salah satu program insentif yang diberikan oleh BSN melalui KLT BSN Makassar.

Pada pelatihan ini, Budi Triswanto memberikan materi pelatihan adalah prinsip-prinsip yang dipersyaratkan dalam SNI ISO 9001:2015 yang terdiri dari: fokus pada pelanggan, kepemimpinan, pelibatan orang, pendekatan proses, bukti berdasarkan keputusan yang dibuat, dan manajemen relasi. Para peserta sangat antusias dengan pelatihan ini karena berlangsung dengan menarik karena instruktur melakukan penyampaian materi dengan cara  berdiskusi kelompok dan melakukan praktek langsung untuk pembuatan proses dokumentasi seperti prosedur, instruksi kerja dan contoh-contoh lainnya.

Mewakili Kepala BBPIAP Takalar, Jenny, menyampaikan terima kasih kepada BSN dan KLT BSN Makassar yang telah memfasilitasi BBPIAP dan stakeholdernya untuk pelatihan SNI ISO 9001:2015. BBPIAP Takalar mempunyai tugas untuk melaksanakan penerapan teknik perbenihan dan pembudidayaan ikan air payau serta pelestarian sumberdaya induk/ benih ikan dan lingkungan. Untuk menjamin seluruh proses dapat berjalan sesuai dengan ketentuan, dibutuhkan penerapan sistem manajemen mutu untuk tata kelola kegiatan pembudidayaan. Dengan penerapan SNI ISO 9001:2015, diharapkan akan meningkatkan kualitas layanan maupun tata kelola kegiatan budidaya perikanan yang ujungnya akan meningkatnya kualitas produk yang dihasilkan. (4d9)
sumber : www.ibnews.id

Categories
Uncategorized

Terapkan SNI, Ubaya Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Sebagai satu diantara universitas swasta terkemuka di Indonesia, Universitas Surabaya (Ubaya) terus mengembangkan mutu penyelenggaraan pendidikan diantaranya dengan menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Keseriusan Ubaya dalam menerapkan SNI telah ditunjukkan dengan diraihnya SNI Award peringkat emas selama empat tahun berturut-turut sejak tahun 2014 – 2017.

“Dengan menerapkan Sistem Manajemen Mutu yang sesuai SNI ISO 9001:2008, maka kami bisa membuktikan bahwa universitas Surabaya benar-benar mengutamakan kualitas penyelenggaraan pendidikan dan mutu lulusan perguruan tinggi sehingga para lulusan Ubaya bisa diterima masyarakat,” papar Prof. Ir. Joniarto Parung, M.M.B.A.T., Ph.D., Rektor Ubaya saat menerima kunjungan dari Badan Standardisasi Nasional (BSN), pada Kamis, 14 Desember 2017.

Selain menerapkan SNI ISO 9001:2008 sejak tahun 2009, Ubaya pun telah menerapkan SNI ISO 19011, terkait audit sistem manajemen ,  SNI ISO 26000 terkait pelaksanaan tanggung jawab sosial, serta akreditasi SNI ISO 17025 dengan ruang lingkup logam berat dan mikrobiologi di lab oratorium CDEA Fakultas Farmasi. Ubaya pun tengah melakukan persiapan upgrade SNI sistem manajemen mutu ke SNI ISO 9001:2015 dengan mengadopsi  SNI ISO 31000 tentan manajemen risiko.

Kepala Biro Hukum, Organisasi dan Humas BSN, Budi Rahardjo pun sependapat dengan pernyataan Joniarto. “Ketika sudah menerapkan standar tertentu, negara lain tidak akan ragu akan kualitasnya,” ujar Budi.  Budi pun menjelaskan kaitan antara SNI dengan standar-standar internasional.

“Standar SNI sesungguhnya sudah sama, harmonis dengan standar-standar lainnya,” jelas Budi

Bagi Ubaya, SNI tidak hanya sekedar proses sertifikasi semata, namun SNI adalah bagian dari komitmen seluruh civitas akademika dalam membangun budaya mutu. “Memasuki era globalisasi seperti saat ini, maka menciptakan Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan berdaya saing, mutlak diperlukan. Jika kita terlambat dalam mengantisipasi dampak dari globalisasi, maka Indonesia akan tertinggal jauh dengan negara-negara lain,” tambah Joniarto.

Joniarto menilai, dengan mengikuti SNI Award, Ubaya melakukan perbaikan di berbagai sisi agar sesuai dengan SNI ISO 9001:2008. Hal ini juga sejalan dengan target dari Menteri Ristekdikti untuk mewujudkan universitas-universitas di indonesia menjadi universitas berkelas dunia.

Ubaya selalu berusaha memenuhi tuntutan lulusan yang dibutuhkan oleh perusahaan. “Semakin tahun, penyerapan mahasiswa lulusan UBAYA semakin cepat. Bahkan, banyak diantara mahasiswa yang sudah diserap oleh perusahaan sebelum mereka lulus. Selain itu, banyak juga mahasiswa lulusan UBAYA yang menciptakan lapangan pekerjaan. Hal ini menunjukkan adanya kaitan antara penerapan SNI dengan kualitas pendidikan di Ubaya ” jelas Joniarto.

Saat ini, Ubaya pun sedang dalam proses pengajuan SNI Corner kepada BSN. SNI Corner ini berguna bagi para mahasiswa dalam mempelajari standar. “BSN akan menyiapkan program dan materi standar yang dibutuhkan oleh civitas akademika, sedangkan ubaya dapat menyiapkan infrastrukturnya,” ujar Pustakawan BSN, Patria Rahayu. (ald-BSN)

sumber : www.ibnews.id

Categories
Uncategorized

BSN Dorong Kompetensi SDM Standardisasi di Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR –Badan Standardisasi Nasional (BSN) mendorong perguruan tinggi untuk melakukan kegiatan peningkatan kompetensi kepada dosen dan mahasiswa di Sulawesi Selatan.

Hal ini disampaikan Kabid Pemasyarakatan Standardisasi BSN, Nurhidayati saat betemu dengan Ketua Perkumpulan Dosen Kopertis Indonesia (PDKI) wilayah Sulsel, Dr Suradi, di Kantor Layanan Teknis BSN Makassar, Rabu (20/12).

Peran dosen sebagai tenaga ahli sangat diperlukan, baik sebagai pakar keilmuan maupun perannya dalam menyampaikan ilmu standardisasi kepada para mahasiswanya.

Sebagai tempat lahirnya SDM berkualitas, perguruan tinggi diharapkan menghasilkan SDM yang paham tentang standardisasi sebagai nilai lebih dari lulusan perguruan tinggi.

Dunia kerja sangat membutuhkan SDM yang paham dan aplikatif dalam bidang standardisasi, minimal untuk SNI ISO 9001:2015. Sebagian besar organisasi telah menerapkan standar SNI ISO 9001:2015 dalam proses kegiatan bisnisnya.

Nurhidayati menyampaikan, untuk meningkatkan daya saing pemerintah semakin gencar mendorong pendidikan dan pelatihan vokasi kepada calon tenaga kerja, termasuk mahasiswa.

Dengan pelatihan vokasi diharapkan kebutuhan tenaga kerja terampil sebanyak 113 juta dapat terwujud. BSN mendorong peningkatan kompetensi terkait standardisasi kepada mahasiswa.

Lebih lanjut Nurhidayati menyampaikan bahwa para dosen sangat dibutuhkan BSN untuk menjadi tenaga ahli dalam membantu penerapan standardisasi.

“BSN membutuhkan dosen untuk menjadi tenaga ahlinya BSN untuk memberikan ilmunya terkait dengan standardisasi sesuai dengan kepakarannya,” tutur Nurhidayati melalui rilisnya, Kamis (21/12/2017).

BSN membutuhkan banyak tenaga sebagai tenaga ahli untuk SNI ISO/IEC 17025 tentang persyaratan pengujian laboratorium; SNI ISO 14000 tentang Sistem Manajemen Lingkungan; dan SNI ISO 22000 tentang standar sistem manajemen keamanan pangan untuk menjadi instruktur atau narasumber.

“Jadi jika SDM di Sulsel ini dapat memenuhi kompetensi yang dibutuhkan, BSN tidak perlu lagi mengirimkan tenaga ahli dari Jakarta,” tutup Nurhidayati.

Suradi menyambut baik inisiasi yang dilakukan BSN kepada PDKI sebagai patner untuk mendorong terciptanya SDM bekompetensi standardisasi di Sulsel.

“Kami menyambut baik inisiasi ini dan akan kami manfaatkan dengan maksimal kegiatan ini,” ujar Suradi.(*)
sumber : www.ibnews.id