Categories
Uncategorized

Filosofi Sholat Dalam Persefektif Manajemen

JAKARTA — Sholat menurut bahasa berarti do’a, sedang menurut istilah adalah suatu bentuk ibadah yang terdiri dari perbuatan dan ucapan yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

“Dan telah diwajibkan kepada manusia untuk beribadah kepada AllahSubhanahu Wata’ala (QS.2:21)”.

Shalat sekaligus merupakan praktik lahir dan batin: serangkaian latihan jasmani, dan makanan ruhaniah yang paling kaya. Dengan membicarakan tiap aspek ini secara agak detail, kita dapat mengetahui mengapa kaum sufi dalam banyak hal berpikir lebih baik mati daripada tidak shalat.

Demikian pentignya shalat dalam kehidupan kita, sehingga agama memandu kita minimal 5 kali dalam 24 jam untuk melakukan shalat fardu, serta sholat sunnah lainnya.

Dalam bacaan shalat, doa iftitah yang selalu kita baca “Innassholaata Tanha ‘Anil Fakhsyaai Wal Munkar”(Q.S. 29:45); Sesungguhnya sholat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Jadi, bila sholat didirikan dengan baik; mengikuti tata cara yang benar mulai dari sebelum sholat itu dikerjakan, banyak karakter positif yang akan terbentuk. Dan pada gilirannya, berbagai macam perilaku yang tidak membangun (negatif) bisa dihindari.

Benarkah sesederhana itu? Ya, memang begitu. Sebagai media, sholat mestinya sama dengan program olah raga atau diet (pola makan) yang teratur. Bila program-program kesehatan itu dilakukan dengan baik dan rutin serta mengikuti panduan-panduan yang dibenarkan, maka kesehatan raga dan jiwa adalah sebuah keniscayaan.

Lupakan orang yang sholat tapi masih saja berperilaku dan berkarakter buruk karena menurut Dr. Bilal Philips—cendekiawan muslim asal Kanada, kini tinggal di Qatar—sholat bagi orang-orang itu hanyalah “mindless routine” saja: rutinitas yang kosong belaka, yang penting gugur kewajiban, tanpa sebuah refleksi, tanpa upaya untuk melihat kembali apa yang sudah diperbuat selama ini. Dan, yang lebih parah lagi, tanpa usaha yang keras untuk mengingat sang pencipta; menyadari sepenuhnya dengan siapa dia sedang berhadapan / berdialog setiap kali sholat dikerjakannya. Dengan begitu, sholat tidak lebih dari sekedar aktifitas pergerakan badan, disertai komat-kamit yang tak memiliki makna.

Sholat memang hanya sebuah media. Namun, ia bisa menjadi satu-satunya alat yang sangat praktis dan ekonomis dan bisa diandalkan untuk membangun karakter yang baik, karena sholat sejatinya memiliki basis sistem manajemen (diri) yang efektif dengan intensitas rutinitas dan substansi kegiatan yang sangat kuat.

Secara empiris, tidak sedikit orang yang memberikan testimoni bahwa dengan sholat yang baik (khusyu’ dan mengikuti tata cara yang dibenarkan) banyak manfaat yang mereka alami dan rasakan. Manfaat itu bukan hanya dalam perspektif individu, namun juga perspektif organisasi dan manajemen secara lebih luas dalam kehidupan. Apalagi jika dikerjakan secara berjama’ah.

Dalam Sahih al-Bukhari, hadis no. 645 disebutkan.
صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً . “Shalat berjama’ah lebih utama dibandingkan shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat”.

Dalam persefekti implementasi manajemen ISO, kita mengenal adanya tahapan-tahapan prinsip dalam pelaksanaanya. Yang pertama adalah Komitmen manajemen, yang merupakan salah satu dari 7 prinsip dasar ISO yakni Leadership, dan Keterlibatan semua orang . Jika kita merujuk dalam praktek sholat berjama’ah, maka pertama adanya kesamaan niat. Imam niat dengan Imaman, dan ma’mum niat dengan ma’muman. Dalam organisasi atau perusahaan, semua hirarki organisasi harus mempunyai niat yang sama, yakni untuk menegakkan kewajiban shalat sebagai bagian dari perintah agama. Jika kita analogikan dalam perusahaan, maka semua sumber daya manusia harus komitmen terhadap aturan yang di tetapkan organisasi.

Dalam konteks implementasi ISO, dikenal dengan kebijakan mutu & sasaran mutu. Yang kesemuanya itu dibungkus dalam komitmen manajemen dan biasanya ada seremenoni khusus untuk menyatakan komitmen tersebut, dimana hadir pimpinan & staff lalu menyatakan niat yang sama dan masing-masing membuktikan komitmennya dalam sebuah tanda tangan dan konsensus bersama. Kesamaan niat itulah yang menjadi perekat organisasi sehingga organisasi atau perusahaan tetap kokoh dan maju.

Selain berkaitan dengan niat, Kegiatan sholat berjama’ah juga berkaitan dengan team-work. Artinya, orang yang biasa sholat berjamaah memiliki kebiasaan hidup mengutamakan kepentingan bersama. Ini juga menyangkut komunikasi untuk kepentingan kelompok yang lebih besar, belajar komunikasi persuasif untuk mengajak orang lain melakukan kegiatan baik secara bersama. Dengan kata lain, orang yang biasa mendirikan sholat berjamaah mampu bekerja dengan baik dalam tim / team-work. Bagaimana itu bisa terjadi? Karena ia terbiasa mengutamakan kepentingan bersama melalui kebiasan sholat berjamaah itu.

Filosofi yang kedua adanya Imam, atau dalam prinsip ISO adanya Leadership. Demikian juga dalam organisasi atau perusahaan, harus ada pemimpin, yang terdiri dari direktur, manager, staff dan sebagainya. Tanpa imam, shalat berjamaah tidak bisa dilaksanakan. Untuk menjadi imam

, kan tidak gampang, ada syarat-syaratnya. Demikian juga pemimpin organisasi, ada syarat dan tanggung jawabnya.

Adapun yang ketiga, yaitu adanya aturan shalat berjamaah, jika kita merujuk ke 7 dasar prinsip ISO, maka terkait dengan Pendekatan System ke Management. Dalam shalat berjamaah, ada aturan dan tata caranya sehingga berjalan tertib dan sah. Bahkan, ketika imam keliru ada mekanisme untuk memperingatkannya, tanpa harus merusak jalannya shalat berjamaah. Dalam Organisasi ada Manual Mutu, SOP-nya, ada peraturan organisasi dan sebagainya.

Semua filosofi dan karakter positif di atas sangat bisa dilatih melalui sholat yang dilakukan dengan baik dan benar (khusu’, tepat waktu dan berjamaah). Karena sholat memiliki intensitas rutinitas yang tertib. Menurut konsep Mielinisasi—salah satunya diperkenalkan oleh Daniel Coyle dengan “deep practice”-nya—bahwa sel saraf otak akan membentuk Myelin (bungkus, Mielinisasi = pembungkusan) bila terjadi pengulangan (berpikir, bergerak). Semakin sering pengulangan terjadi maka mielinisasi semakin kuat. Dengan begitu, karakter-karakter positif tersebut di atas semakin melekat pada setiap pribadi yang mengerjakan sholat dengan baik dan benar, rutin dan disiplin. Begitu pula jika kita proyeksikan dalam sebuah organisasi dan perusahaan, maka sholat berjama’aah sudah pasti memiliki makna yang dalam, baik dari segi harfiah, filosofi,  dan penataan organisasi modern.

Sumber : www.ibnews.id