Categories
Uncategorized

Quality is a Never Ending Road

JAKARTA, -Bicara mutu, adalah bicara tanda baca. Yang digunakan hanya tanda tanya dan tanda seru. Mutu bicara soal pertanyaan dan pernyataan yang ada sepanjang organisasi ada dan tumbuh. Selama usaha berjalan, selama itu pula mutu mengikuti dalam perjalanan.

Mutu tidak berada pada satu titik dan tidak memiliki titik. Quality is a never ending road. Mutu adalah jalan tak berujung. Upaya mewujudkan mutu tidak akan pernah berakhir. Apa yang dianggap baik hari ini mungkin menjadi tidak baik esok. Apa yang dipersepsikan baik oleh pelanggan hari ini mungkin tidak dipersepsikan demikian pada masa mendatang. Kebutuhan manusia terus berubah, persyaratan berubah, ekspektasi berubah dan persepsi pelangganpun terus berubah. Mutu mengikuti perubahan. Manajemen mutu adalah manajemen perubahan. Dalam konteks pelanggan perubahan terus terjadi mengikuti kebutuhan, persyaratan, ekspektasi dan persepsi.

Sertifikasi adalah awal dari suatu perjalanan panjang. Perusahaan beralih dari kondisi serba tidak teratur kemudian menjadi serba teratur. Kemudian beranjak lagi menuju tahap efektivitas. Pada tahap ini perusahaan ingin memastikan pencapaian sasaran-sasaran normatif yang telah ditetapkan. Baru tahap berikutnya adalah mengejar prestasi yg lebih besar dimana perusahaan mencari inovatif kreatif. In search for creative innovation.

Untuk itu perusahaan perlu terus memacu semangat seluruh personil organisasi agar tidak pernah kendur apalagi berhenti menjalankan komitmen mutu yang telah dirintis.

Seseorang tidak akan sampai pada tujuan tanpa mngetahui arah perjalanan yang ingin ditempuh. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah sertifikasi termasuk tujuan? Sertifikat bisa dibilang adalah hanya sebuah infrastruktur.

Tujuan fundamental menerapkan ISO 9001 sendiri adalah mendukung pencapaian tujuan perusahaan mewujudkan prestasi yang dicita-citakan.

Tujuan strategik merupakan termasuk tujuan jangka panjang, sedangkan perencanaan operasional dan anggaran masuk ke tujuan jangka menengah, dan untuk jangka pendek meliputi: tingkat kepuasan pelanggan dll.

Sistem manajemen mutu mensyaratkan perusahaan utnuk menetukan tujuan. Dikatakan : Sasaran-sasaran mutu termasuk sasaran-sasaran lainnya yang diperlukan untuk mencapai kesesuaian produk ditetapkan pada unit-unit fungsional pada berbagai tingkatan dalam perusahaan. Sasaran mutu dibuat spesifik dan sejalan dengan kebijakan mutu.

Hasil peneliti Joseph M. Juran ada enam dimensi yang mempengaruhi kualitas suatu produk. Keenam dimensi itu adalah: 1). Kinerja (performance), 2). Keistimewaan (types of features), 3). Kepercayaan dan ketepan waktu (reliability and durability), 4). Mudah dirawat dan diperbaiki (maintanibility and serviceability), 5). Sifat khas (sensory characteristic), dan; 6). Penampilan serta citra etis.

Dimensi mutu yang berlaku untuk semua jenis organisasi penghasil jasa, termasuk lembaga pendidikan pondok pesantren, di satu sisi berbasis pada pelayanan jasa (pendidikan), namun di sisi lain dituntut menghasilkan suatu produk dalam bentuk investasi sumberdaya manusia. Manajemen mutu dalam konteks pesantren, antara lain meliputi keberadaan (availabiliti), ketanggapan (resposivenes), menyenangkan (convenience) dan tepat waktu (time liness), dalam setiap produk yang dihasilkannya agar setiap pelanggan yang menggunakan jasa pendidikan pesantren dimaksud dapat terus memberikan kepercayaan kepadanya.

Komponen Manajemen Mutu

Setiap program mutu, mencakup empat komponen penting. Keempat komponen dimaksud antara lain adalah: Pertama, mesti ada suatu komitmen untuk berubah. Kedua mesti memahami dengan baik di mana posisi atau keberadannya sekarang. Ketiga, mesti memiliki visi masa depan yang jelas. Keempat, mesti memiliki rencana untuk meng-implementasikan mutu.
Selain itu, manajemen mutu, juga mengedepankan pentingnya lima tata langkah dalam implementasinya. Kelima langkah dimaksud adalah: 1. Fokus pada customer, 2. Keterlibatan total, 3. Pengukuran, 4. Komitmen dan, 5. Perbaikan yang berkelanjutan.

Manajemen mutu dapat difungsikan untuk mengawasi dan atau mengendalikan mutu. Para pengambil kebijakan mesti mempunyai standar mutu yang menjadi pedoman dasar penilaian. Mutu suatu produk harus dibuat perencanaannya dan desainnya (predetermined quality design). Dalam merencanakan mutu atau mendesain mutu suatu produk, hendaknya diorientasikan pada selera konsumen. Artinya mutu yang disukai konsumen (customers preferences) dan tentu saja sekaligus mutu yang diperlukan konsumen secara efektif.

So, menjalankan ISO 9001 ibarat menanam sebuah pohon. Tapi bukan menanam pohon jagung, tiga bulan bisa panen, melainkan pohon kelapa.

Mulai dari menyemai benih sampai menjadi pohon besar yang berbuah lebat prosesnya sangat panjang. Tidak selamanya benih yang kuat dan berbuah lebat. Karena selama proses pertumbuhannya akan banyak menghadapi tantangan dan rintangan. Benih yang telah bersemi perlu diberi pupuk dan disiram secara teratur agar akarnya semakinmkuat dan kokoh. Bila tidak ia akan mati sebelum tumbuh menjadi sebatang pohon. Siraman air adalah faktor motivasi dan pembinaan. Adakalanya setelah pohon beranjak menjadi besar tiba-tiba diterpa angin dan roboh. Angin menggambarkan permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan, misalnya krisis. Ada kalanya orang tidak sabar dengan pohon yang sudah lama tumbuh tapi tidak kunjung berbuah sehingga timbul penilaian bahwa ISO 9001 tidak bermanfaat, Karena tidak ada buahnya. Ada yang lengsung menebang pohon dan menggantinya dengan pohon jenis lain.

Program mutu adalah program jangka panjang bukan seperti menanam pohon jagung bisa cepat menikmati hasilnya.

 

Sumber : https://www.ibnews.id/quality-never-ending-road/