Categories
Uncategorized

IBP Sinergi Bersama Untuk “Melek” Standarisasi

JAKARTA, — Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar dan kaya akan sumber dayanya. Potensi pengembangan sumber daya alam dan manusia sangat besar dan strategis. Untuk mengelolanya tentu perlu perjuangan semua pihak.

Sebagai pewaris kemerdekaan, maka sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai komponen bangsa untuk mengisi arti kemerdekaan dan juga menikmatinya dengan segala upaya kita terhadap majunya bangsa ini, hari ini, 10, 20, 50 tahun, bahkan sampai akhir zaman.

Itulah alasan berdirinya, Indonesai Bermutu Program (IBP) pada 2006 yang digagas Ahmad Nosa P.Kurniawan, Chairman TGIBIG kepada IBNEWS.ID di ruang kerjanya, Gedung Graha TGI Jakarta, Jum’at (9/2/2018)..

Dikatakan Pria Kelahiran Surabaya ini, Indonesia bermutu Program terinspirasi oleh janji kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang termasuk dalam Pembukaan UUD 1945. Janji kemerdekaan tersebut adalah tanggung jawab kita bersama, di manapun, kapanpun, dan siapapun. Selain itu, ide IBP di cetuskan karena standarisasi di Indonesia kurang di kenali, mungkin warga Indonesia bisa di bilang belum “melek” tentang standarisasi.

Harapannya, kelak melalui IBP, Indonesia akan terlahir kembali sebagai sebuah negara-bangsa yang menjadi rujukan dan inspirasi bangsa-bangsa di seluruh dunia. Kehidupan Indonesai yang bermutu itu lahir dari berbagai program yang didesain, dimplementasikan, dan dikembangkan oleh Indonesia Bermutu Program (IBP). IBP hadir untuk merakit Indonesia menjadi bangsa besar yang sadar akan mutu dan standar.

Berikut petikan wawancaranya dengan wartawan IBNEWS.ID, Dilla Amalia :
IBP itu apa ?

IBP itu Indonesia Bermutu Program, sesuai dengan namanya jadi akan membuat Indonesia itu bisa menjadi yang bermutu dalam segala sektor, teruntuk di Indonesia, pada tahun 2013 sebenarnya IBP ini sudah diharapkan dan sudah mencoba untuk launching namun belum secara serius, kita mencoba membuat ini sekarang memang di peruntukan untuk apresiasi kepada organisasi – organisasi yang memang sudah konsen terhadap standarisasi. Dapat di katakan program IBP adalah program untuk bagaimana Indonesia ini dapat menjadi lebih bermutu. Sektornya jika di tanyakan adalah sektor industri, sektor management, kemudian baik managerial atau people nya.

Sejak kapan IBP ini di dirikan atau di cetuskan ?

Pemikiran awal nya itu pada tahun 2006 namun belum bertemu dengan team yang cocok, kemudian pada tahun 2013 setelah saya mendirikan organisasi ICSM saya mencoba untuk mulai menggali lagi lebih dalam, dan kita di tahun 2013 untuk mencoba melaksanakan IBP ini.

Siapa yang pertamakali mencetuskan atau mendirikanya, apa dari anda sendiri atau ada dari pihak lain?

Pada awalnya ide ini mungkin karena experience karena sudah lama di dunia standarisasi, dan bisa kita lihat kita lihat standarisasi ini bukan hal yang “seksi” di Indonesia, saya mencoba mem-breakthough itu. Mungkin jika ditanya idenya mungkin dari pengalaman saya dengan melihat apa yang saya rasakan terkait dengan masalah standarisasi di Indonesia, kemudian kita juga telah memiliki team baru kita untuk pikirkan lebih serius lagi mengenai IBP itu kedepan.

Bagaimana Visi dan Misi dari IBP ini sebenarnya?

Jadi seperti ini, IBP itu sebenarnya visi nya kedepan adalah bagaimana orang itu atau Indonesia itu paham betul dengan apa namanya itu standarisasi, baik untuk people, system, technology maupun dari managerial itu orang tau. Lalu sebetulnya misi nya adalah bagaimana orang itu bisa tau, jadi jika bagaimana orang bisa tau? berarti yang pertama adalah masalah akses terkait standarisasi dan Indonesia Bermutu adalah akses , lalu accessibility, sosialisasi, komunikasi, synergy, recognition terkait mengenai standarisasi dan semua orang akan tau, semua organisasi bisa memahami karena banyak sekali standarisasi di Indonesia yang mungkin kebanyakan orang tidak mengetahui akses nya itu seperti apa. Tugas IBP adalah kita membuat orang yang dulunya tidak mengetahui kemudian menjadi tau, yang dulunya hanya tau tentang sekarang menjadi tau betul mengenai seperti apa itu standarisasi nah itu tantanganya seperti itu.

Siapa patner / mitra IBP yang sudah diajak untuk berperan di IBP ?

IBP ini sebenarnya program yang di buat TGI, dan TGI itu adalah consortium yang memang konsen berjuang di standarisasi. Tentunya patner nya adalah yang ingin sama – sama berjuang, contoh ada ICSM Indonesia lembaga sertifikasi yang sudah akan akreditasi nya dengan sekian klien nya lalu kemudian ada TRAMA Indonesia dan ada juga Tijarotan Lan Tabur ( TABURI) dan kita juga punya strategi – strategi yang bisa kita katakan ada IBNEWS kita mempunyai portal untuk news program – program apa saja terkait dengan standarisasi, IBP sebenarnya umbrella besar sudah di konsep besar agar orang, organisasi, atau siapapun penduduk siapa yang tinggal di Indonesia mereka mengetahui standarisasi sehingga mereka tau “ini yang bermutu itu seperti ini” lalu tidak menutup kemungkinan nanti ada patner – patner yang lain maka dari itu IBP ini sebenarnya adalah gerakan. Gerakan Indonesia Bermutu yang arahnya bagaimana empowering, encouraging orang itu agar bisa bergerak dan konsen terhadap standarisasi yang selama ini orang – orang kalo di tanya apa itu standarisasi SNI contoh nya pasti taunya hanya helm. Padahal tidak sesederhana itu dari ujung kaki hingga ujung rambut kita semuanya tidak lepas dari standarisasi. Maksud saya itu, orang harus memahami standarisasi ini sebetulnya sama, seperti kita orang beragama kita punya kitab, Al-Qur’an dan lain – lainya, itukan standar kehidupan kan banyak juga yang belum tau.

Apa rencana yang sudah di bangun dalam jangan panjang dan pendek di IBP ?

Rencana yang di bangun jangka pendek, jangka panjang. Jadi sebenarnya kalau di tanya ini karna masih baru ya memang harus ada rencananya tapi kalau rencana jangka pendeknya adalah yang pertama kita memperkenalkan dulu program ini salah satunya yaitu melalui IBNEWS kemudian ada beberapa apresiasi – apresiasi dalam bentuk sertifikat di keluarkan baik untuk organisasi maupun untuk people. Kalo untuk people setelah people melakukan training sehingga dia harus kita beri apresiasi dan mereka harus kita recognition. Sekarang banyak standarisasi tapi mereka tidak tau, karna seharusnya mereka di kasih tempat yang layak karna mereka juga pejuang standarisasi kita, cuman karna tidak “seksi” karna dianggapnya biasa saja standarisasi di indoensia . yang ingin kita tunjukan bahwa ada ini yang sebelumnya tidak “ngaji” tentang standarisasi sekarang sudah “ngaji” standarisasi kan perlu orang tau, bahwa banyak yang masih mau belajar dan ini yang kita bantu. Jadi IBP ini sambil menggerakan 5 konsep accessibility, sosialisasi, komunikasi, synergy, recognition harus kena semua. Sehingga orang tau dan sekarang kita juga sudah menjadi Negara yang tanpa batas, bagaimana kita mau menjadi tuan rumah atau bagaimana kita mau menghargai kita tapi kalau tidak kita mengangkat drajat standarisasi oleh kita sendiri kalu tidak nanti asing lagi dan terus asing seperti itu dan sampai kapan? Maka dari itu ini tempat dan ini wadahnya ini perjuanganya.

Tantangan apa yang telah anda lewati selama mendirikan IBP ?

Banyak yang tidak suka, khususnya bagi orang asing asing. Saya merasa standarisasi ini belum banyak orang kenal ya contohnya kalau kita Tanya SNI itu apa orang pasti taunya helm, berarti perseptif nya masih sempit, padahal kalau mereka ketahui SNI itu adalah standar kita Standar Nasional Indonesia dan seharus nya bangga, namun kebayakan orang tidak mengetahui dan sebenarnya ini adalah “PR”, kebanyakan orang taunya merek – merek yang lain. ISO misalnya, padahal ISO adalah SNI ISO untuk di Indoensia tapi ini pemahaman –pemahaman masih bingung karena tidak jelas, karena tidak ada yang berani, Maka dari itu IBP berani, TGI dengan IBP nya mau masuk di situ. Tantanganya juga adalah, banyak orang yang tidak mengerti. Semakin banyak yang tidak mengerti itu semakin tertantang, tentunya itu tantangan yang lainya adalah hubungan, support karna ini adalah program yang mungkin “gila” lalu belum tentu untung. Tapi saya fikir nanti kedepan kita akan masuk di era seperti itu, dan kita ingin menjadi yang pertama, menjadi pimpinan. “bermanfaat untuk orang banyak khususnya di standarisasi di Indonesia”.

Program apa saja yang ada di dalam IBP ini?

Untuk saat ini programnya tidak lepas dari 5 tadi. Bagaimana kita untuk di akses berarti harus ada program yang agar semua orang tau, dan kita tidak bisa turun sendirian misalnya aksesnya untuk standarisasi atau sertifikasi bisa oleh ICSM membuat program – programnya misal nya program UMKM, atau sekolah – sekolah karna sekolah – sekolah taunya standarisasi itu mahal, dan disini IBP bukan menjual murah atau seperti apa namun disini sedang mencoba cari tentang untuk UMKM itu seperti apa, untuk sekolah – sekolah baru mulai muncul itu seperti apa dan bagaimana teknis nya tidak di korbankan, dan secara harga juga harus di bantu siapa lagi yang akan membantu jika bukan kita sendiri, itu satu. Belum lagi refinance nya bagaimana, bisa saja ada dukungan uang lebih banyak ingin membantu UKM – UKM atau sekolah – sekolah atau yang lain, banyak sektor – sektor yang perlu, khusunya UMKM karna mereka ini adalah calon – calon besar, calon – calon pemain utama di Indonesia ini untuk 10, 20 atau 100 tahun kedepan. Ini programnya tidak lepas dari itu akses, sosialisasi kalo untuk ke people, misalnya seseorang itu kelulusan SMA, SMK kan itu harus di didik harus di bimbing coba agar mereka di didik, mungkin harganya tidak mahal tapi daya saing jika mereka di wawancara dari 10 ada 3 yang keterima karena mereka telah paham standarisasi, hal – hal seperti ini kecil memang nilainya mungkin tidak dianggap provit, oriented IPB meng encouraging itu mengajak organisasi – organisasi yang mendukung ICSM, TRAMA untuk tidak memikirkan keuntungan saja tapi harus menjaga sustainability dari bisnis ini. Saya maunya IBP memayungi ini semua karna mereka pasti mempunya kepentingan bisnis tapi tidak semata – mata bisnis, harus bermanfaat. Jadi IBP mencoba masuk dari sudut pandang seperti itu.

Menurut anda apa dampak IBP untuk Indonesia itu sendiri?

Pastinya saya berharap positif, jika 5 ini di jalankan dengan konsisten artinya semua akan tau standarisasi “melek” standarisasi, terhadap siapa saja, semuanya makanya program ini tidak hanya ke orang saja tapi ke organisasi juga. Cara berfikirnya yang sebenarnya sedang kita coba lihat bahwa telah ada ini informasi – informasi standarisasi, makanya kita membuat portal berita dan learning. (AK/DA)
Sumber : www.ibnews.id